Bukan Sekadar Bakat! Ibu Susi Wulandari, S.Pd Ungkap Rahasia di Balik Siswa Juara Menulis FLS3N 2026
Sungai Guntung, 05 Agustus 2026 – Dari draf tulisan hingga menjadi karya yang
mengantarkan siswa meraih prestasi di FLS3N 2026, ada proses panjang,
ketekunan, dan sentuhan seorang guru Bahasa Indonesia. Adalah Ibu Susi Wulandari, S.Pd, guru
Bahasa Indonesia sekaligus pembimbing siswa, yang turut mengantarkan talenta
menulis tersebut hingga meraih juara. Ia mengaku merasakan haru dan bangga yang
sulit dilukiskan dengan kata-kata. Baginya, melihat karya yang awalnya hanya
berupa draf kasar kemudian mendapat pengakuan di tingkat FLS3N ibarat melihat
benih yang setiap hari dirawat hingga akhirnya mekar menjadi bunga yang indah.
“Keberhasilan ini bukan sekadar menang lomba, tetapi bukti bahwa suara,
gagasan, dan imajinasi siswa kita mampu menyentuh hati para juri,” ungkap Ibu
Susi.
Di balik kemenangan tersebut,
ternyata terdapat proses bimbingan yang penuh eksplorasi dan diskusi intensif.
Ibu Susi tidak sekadar mengoreksi tulisan siswa, tetapi berusaha menjadi teman
diskusi yang memantik munculnya ide-ide kreatif. Proses dimulai dengan
menemukan “ruh” cerita, mencari ide yang unik dan dekat dengan kehidupan anak,
kemudian membedah struktur alur, mengasah konflik, hingga memperkaya diksi agar
cerita terasa lebih hidup. Tantangan pun tidak selalu mudah. Ketika siswa
mengalami writer’s block
atau kebuntuan ide, Ibu Susi memilih tidak memaksakan proses menulis. Suasana
belajar justru diubah melalui membaca karya bersama, berbincang santai, atau
menggali pengalaman sehari-hari. Dari percakapan sederhana itulah sering kali
muncul ide-ide baru yang segar.
Menurut Ibu Susi Wulandari, S.Pd, kunci
keberhasilan siswa dalam lomba menulis terletak pada kejujuran rasa, keberanian berimajinasi, dan
ketekunan merevisi. Ia membiasakan siswa membaca dan bercerita
sejak awal sebelum mengajak mereka menghasilkan tulisan. Baginya, siswa
membutuhkan ruang yang aman untuk menyampaikan ide tanpa takut dianggap salah
atau buruk. Ketika ide mereka dihargai, rasa percaya diri akan tumbuh dan
kemampuan menulis berkembang secara alami. Kepada siswa lain yang ingin
berprestasi, ia menyampaikan pesan sederhana namun kuat, “Jangan takut untuk memulai dan jangan pernah malu
dengan draf pertamamu.” Menurutnya, setiap orang memiliki
cerita unik yang layak didengar dan tulisan yang baik lahir dari proses belajar
serta keberanian untuk terus memperbaiki karya.
Menariknya,
kemenangan FLS3N 2026 justru dianggap sebagai awal dari perjalanan yang lebih
besar. Ibu Susi Wulandari, S.Pd, berencana mendorong
karya-karya siswa untuk dibukukan sehingga dapat dinikmati oleh khalayak yang
lebih luas. Ia juga ingin menularkan semangat menulis melalui pembentukan
komunitas atau klub menulis di sekolah. Harapannya, prestasi kali ini tidak
berhenti pada satu nama atau satu piala, tetapi menjadi pemantik lahirnya lebih
banyak “penulis muda”
yang berani menuangkan gagasan, memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar,
dan siap mengukir prestasi di masa depan. Satu kemenangan telah diraih, tetapi mimpi untuk melahirkan generasi
penulis baru baru saja dimulai.
